Saat ini kita sedang dihadapkan masalah
dan tantangan serius, mulai dari ranah politik,hukum dan pemerintahan. Ranah
pendidikan disorot sebagai muara baik buruknya kualitas manusia khususnya
kehidupan berbangsa dan bernegara. Banyak kejadian terkait dengan semakin
menurunnya moral,etika dan norma sosial mulai dari usia anak-anak, remaja dan
dewasa. Kemajuan jaman tidak diikuti oleh kemajuan dalam bersikap, bertuturkata
apalagi bertingkah laku akan berdampak tingginya degradasi moral. Pendidikan
karakter dicetuskan sebagai jawaban atas menurunnya moral,etika dan nilai-nilai
kehidupan dalam masyarakat.
Upaya sekolah dalam rangka meningkatkan
kesadaran pentingnya bersikap yang sesuai dengan nilai-nilai akhlak mulia salah
satunya adalah dengan penanaman sikap empati sejak dini. Empati berasal dari
bahasa Yunani yaitu phatos yang
artinya perasaan mendalam atau kuat. Hurlock (1999) empati adalah kemampuan
seseorang untuk mengerti tentang perasaan dan emosi orang lain serta kemampuan
untuk membayangkan diri sendiri di tempat orang lain. Apa yang dirasakan orang lain
yang sedang mengalami masalah, kita mampu mampu membayangkan dan merasakan
serta mau menerima keadaaan yang dialaminya. Ketika peristiwa bencana alam
gempa bumi yang baru saja menimpa saudara kita di Palu Sulawesi Tengah, sontak
empati kita tergugah membayangkan apabila bencana alam itu menimpa diri kita
betapa sedih,takut dan cemas menghadapi peristiwa tersebut. Kesadaran hati dan
perasaan kita tergugah untuk segera membantu memberi pertolongan yang
dibutuhkan, sebagai wujud empati serta kepedulian terhadap sesama.
Empati dalam
Pembelajaran
Dalam pendidikan, guru seharusnya mampu
memberikan empati kepada siswanya dan mengajarkan bagaimana bersikap empati.
Tiga karaktristik empati yaitu mampu menerima sudut pandang orang lain, memiliki
kepekaan terhadap perasaan orang lain, mampu mendengarkan orang lain.
Mengajarkan empati kepada siswa adalah sebagai upaya kita menolong untuk
memahami sudut pandang orang lain. Pada saat guru bertanya dalam sebuah diskusi
kelompok beberapa murid pasti mempunyai sudut pandang yang berbeda dalam
menjawab suatu permasalahan, saat itu kita hadapkan untuk memunculkan empati
saling menghargai dan menghormati pandangan dari siswa-siswa kita, kemampuan
untuk menerima jawaban yang mungkin dianggap nyeleh,ngawur dan kurang
sependapat itulah sebenarnya kita sudah melakukan sikap empati. Apapun jawaban
siswa atas pertanyaan yang diajukan oleh guru, mereka pantas untuk mendapatkan
apresiasi yang baik.
Terkait dengan kepekaan perasaan, guru
mampu mengidentifikasi perasaan-perasaan siswa dan peka terhadap hadirnya emosi
dalam dirinya. Pada saat di kelas siswa terlihat malas mengikuti pelajaran
ditunjukan asyik ngobrol dengan temannya, menjahili teman atau bahkan tertidur
dikelas. Hal itu akan tampak melalui pesan non-verbal, misalnya nada bicara,
gerak-gerik dan ekspresi wajah. Kepekaan guru yang sering diasah akan dapat
membangkitkan reaksi spontan pasti akan segera mengambil tindakan sebagai
reaksi terhadap kondisi siswa tersebut. Proses tindakan yang baik seharusnya
dilakukan dengan cara yang baik pula, karena apabila guru tidak memiliki rasa
empati serta peka terhadap perasaan yang dialami siswanya, maka serta merta
guru tersebut akan melakukan tindakan yang hanya meluapkan emosi sesat seperti
menegur dengan kasar, menampar dan menghukum tanpa alasan yang jelas. Akibatnya
akan memunculkan permasalahan baru bagi guru dan siswa tersebut.
Kemampuan berikutnya adalah sebagai guru
kita harus mampu mendengarkan. Sikap mau mendengar akan memberikan pemahaman
yang lebih baik terhadap perasaan orang lain dan mampu membangkitkan penerimaan
terhadap perbedaan yang terjadi. Permasalahan yang dialami siswa tidak akan
pernah dapat diketahui apabila kita tidak mau mendengarkan cerita mereka dan
segala pernik-pernik kehidupannya. Motivasi, semangat dan nasehat yang kita
berikan ke siswa tidak akan pernah bermanfaat apabila kita tidak mendengarkan
apa yang mereka rasakan dan pikirkan.
Empati terbukti baik bagi guru dan siswa
serta menjadi bagian penting dalam proses belajar mengajar. Untuk menjadi guru
yang efektif, perlu memiliki kemampuan ini untuk memahami kondisi siswanya
sebagai upaya membantunya belajar dan memperoleh pengetahuan. Guru yang tidak memahami
perasaan-perasaan, pikiran-pikiran, motif-motif dan orientasi tindakan siswanya
akan sulit untuk membantu dan memfasilitasi kegiatan belajar siswanya.
Indikator atau karakteristik dari siswa yang sukses adalah berpengetahuan,
mampu menentukan diri sendiri, strategis dan empatik.
Di era zaman now ini masih banyak anak didik kita yang membutuhkan mata, telinga
dan perasaan kita sebagai pendidik untuk membantu mereka bertumbuh dengan
matang dengan segala problematikanya. Mari sebagai pendidik kita bersama-sama
tanamkan sikap empati sebagai dasar untuk memulai mendidik dan mengajar,
bertumbuh bersama demi kemajuan bangsa dan negara kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar