Guru BK Kreatif & Inovatif Menuju Dunia Cyber 4.0



Pengenalan dunia cyber terutama internet oleh guru BK saat ini masih minim. Hal tersebut terlihat bahwa penguasaan dan penggunaan Information Comunication and Technology (ICT) oleh guru BK juga belum dikuasai sepenuhnya pada saat memberikan layanan bimbingan dan konseling. Era revolusi industri 4.0 ini pemanfaatan sumber-sumber belajar yang diikuti dengan perkembangan teknologi dibidang pendidikan melalui platform digital mobile dengan akses internet berkembang sangat cepat. Kompetensi guru BK di bidang teknologi informasi (ICT) dituntut harus mampu mengejar ketertinggalan dari negara tetangga terdekat seperti Malaysia dan Singapura. Pembelajaran interaktif di Singapura misalnya guru dan siswa sangat interaktif memanfaatkan ICT melalui media yang divisualiasasikan dikelas melalui komputer dan diproyeksikan melalui  LCD serta penggunaan gadget dalam pembelajaran.
Pendekatan dengan metode layanan bimbingan secara klasika kovensionall seperti metode ceramah akan mengakibatkan kebosanan bagi siswa akibatnya materi layanan tidak akan bisa dipahami oleh siswa, sehingga tugas perkembangan remaja akan mengalami hambatan terutama perkembangan pribadi,sosial, belajar dan karir. Mengingat pentingnya ICT sebagai salah satu bidang yang harus dikuasai guru BK, maka berbagi pendidikan pelatihan, workshop, MGBK dan seminar mengenai peningkatan kompetensi guru BK inovatif dan pengenalan ICT mulai gencar di adakan oleh pemerintah untuk mengupgrade guru BK agar semakin profesional dibidangnya. Memang pada kenyataanya masih banyak guru BK yang gaptek(gagap teknologi) atau belum menguasai tentang penggunaan komputer dan internet yang digunakan sebagai media untuk layanan bimbingan dan konseling. Akan tetapi hambatan tersebut pasti ada solusi, asalkan kita sebagai guru BK mempunyai gairah dan semangat untuk melakukan perubahan yang lebih baik, demi anak didik kita dimasa yang akan datang..
Apabila guru BK sudah mampu menguasai ICT, maka nantinya guru BK dapat mengembangkan serta berinovasi sendiri secara lebih mendalam dan menyumbangkan pengetahuannya serta penemuan-penemuan model layanan bimbingan berbasis ICT. Penelitian tindakan kelas secara berkesinambungan telah didengung-dengungkan dari hari ke hari bagi kalangan guru BK. Pertanyaanya apakah hasil penelitian tindakan kelas tersebut hanya sebatas untuk syarat kenaikan pangkat guru PNS atau mungkin untuk mendapatkan tunjangan sertifikasi saja?. Tentu saja tidak demikian bukan?. Hasil karya guru BK seharusnya bisa dibagikan kepada teman-teman guru BK lain yang mungkin mengalami kesulitan yang sama, dengan demikian guru BK lain dapat saling berbagi pengalaman, sharing dan berdiskusi bersama untuk membicarakan suatu topik permasalahan atau hasil penelitian yang dilakukan guru BK tersebut. Kesadaran akan pentingnya bertukar pikiran antara guru BK sangatlah penting karena mengingat saat ini banyak sekali hambatan yang kompleks sehingga memerlukan banyak pemikiran yang harus disumbangkan oleh guru BK. Komunitas atau paguyuban guru BK MGBK tingkat kota/Propinsi perlu dibangkitkan kembali,saling sinergi mengupdate informasi terbaru untuk peningkatan kompetensi guru BK.
Koneksi jaringan internet dapat dimanfaatkan untuk mendekatkan komunikasi antara guru BK, tanpa batas waktu dan tempat. Melalui media sosial Facebook,Twitter, Instagram dan aplikasi mobile Whatsapp yang terintegrasi melalui smartphone berbasis android, maka guru BK dapat secara mudah berkomunikasi, berbagi pengalaman disekolah masing-masng, berdiskusi tentang suatu penelitian tindakan secara terbuka. Abad 21 adalah jaman keterbukaan maka diharapkan ilmu dan karya-karya yang dihasilkan oleh guru BK dapat terus dibagikan oleh rekan-rekan guru BK yang lain lewat internet, sehingga akan memacu guru BK sebagai pendidik konselor sekolah yang profesional, inovatif dan berkembang mengikuti dinamika baru.
            Mempelajari ICT tidaklah sulit karena saat ini tutorial pembelajaran bagi Guru pembelajar sudah disediakan kemudahan-kemudahan dalam internet melalui Youtube, dan Google. Hambatan bahasa pun tidak perlu khawatir misalnya apakah harus menguasai bahasa Inggris yang mungkin alasan sebagai hambatan terbesar? maka saat ini internet bisa diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Buku-buku panduan untuk mengoperasikan internet pun sudah tersedia di toko-toko buku. Jadi kenapa kita sebagai guru BK harus bingung untuk mencoba dan berani untuk memanfatkan media ICT dengan akses internet?. Sebagai guru BK pembelajar, mulai berkarya dengan memanfatkan ICT, tidak ada kata terlambat untuk mencoba dan maju terus demi masa depan anak didik kita. Sukses selalu untuk guru BK Indonesia. 

Kolaborasi Pendidikan Abad-21


Pengembangan profesionalitas guru selalu digiatkan dengan kegiatan seperti seminar,workshop,IHT dan pelatihan lain yang sejenis. Literasi, ketrampilan abad-21, dan ICT adalah perpaduan kolaborasi strategi setiap sekolah dalam meningkatkan mutu pendidikan di era zaman now. Guru abad-21 dipersiapkan untuk membawa siswa  mempelajari keterampilan dasar langsung dari pemodelan guru, sampai ke aplikasi kolaboratif di dunia nyata. Hal ini diasumsikan bahwa guru dituntut untuk mengajar menggunakan literasi termasuk di dalamnya penggunaan ICT. Menurut Wagner  (2010) dan  Change  Leadership  Group  dari  Universitas Harvard  mengidentifikasi kompetensi  dan  keterampilan  bertahan  hidup  yang  diperlukan  oleh  siswa  dalam  menghadapi kehidupan,  dunia  kerja,  dan  kewarganegaraan  di  abad-21  ditekankan  pada  tujuh  (7) keterampilan berikut: (1) kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah, (2) kolaborasi dan kepemimpinan, (3) ketangkasan dan kemampuan beradaptasi, (4) inisiatif dan berjiwa entrepeneur, (5)  mampu  berkomunikasi  efektif  baik  secara  oral  maupun  tertulis,  (6)  mampu  mengakses  dan menganalisis informasi, dan (7) memiliki rasa ingin tahu dan imajinasi. 
Literasi informasi yang mencakup kemampuan mengakses, mengevaluasi dan menggunakan informasi. Seseorang yang berkemampuan literasi media adalah seseorang yang mampu menggunakan keterampilan proses seperti kesadaran, analisis, refleksi dan aksi untuk memahami pesan alami yang terdapat pada media. Literasi media juga mencakup kemampuan untuk menyampaikan pesan dari diri dan untuk memberikan pengaruh dan informasi kepada orang lain. Kemampuan literasi ICT mencakup kemampuan mengakses, mengatur, mengintegrasi, mengevaluasi, dan menciptakan informasi melalui penggunaan teknologi komunikasi digital. Literasi ICT berpusat pada keterampilan berpikir tingkat tinggi dalam mempertimbangkan informasi, media, dan teknologi di lingkungan sekitar. Tiga bentuk literasi yang meliputi literasi komunikasi informasi, media dan teknologi, merupakan keterampilan pokok yang diperlukan untuk keberhasilan kehidupan di abad-21 (Trilling & Fadel, 2009).
Munculnya teknologi informasi dan komunikasi yang berkembang cepat telah mengubah cara kita belajar, sifat pekerjaan yang dapat dilakukan, dan makna hubungan sosial. Pengambilan keputusan bersama, berbagi informasi, berkolaborasi, berinovasi, dan kecepatan bekerja menjadi aspek yang sangat penting pada diera modern ini. Siswa diharapkan tidak lagi berfokus untuk berhasil dalam melakukan pekerjaan-pekerjaan manual atau pekerjaan rutin berbantuan mesin ataupun juga pekerjaan yang mengandalkan pasar tenaga kerja murah. Saat ini, indikator keberhasilan lebih didasarkan pada kemampuan untuk berkomunikasi, berbagi, dan menggunakan informasi untuk memecahkan masalah yang kompleks, dapat beradaptasi dan berinovasi dalam menanggapi tuntutan baru dan mengubah keadaan, dan memperluas kekuatan teknologi untuk menciptakan pengetahuan baru.
Saat ini sekolah ditantang menemukan cara dalam rangka mengupayakan siswa sukses dalam pekerjaan dan kehidupan melalui penguasaan keterampilan berpikir kreatif, pemecahan masalah yang fleksibel, berkolaborasi dan berinovasi. Keterampilan-keterampilan penting di abad-21 masih relevan dengan empat pilar kehidupan yang mencakup learning to know, learning to do, learning to be dan learning to live together. Empat prinsip tersebut masing-masing mengandung keterampilan khusus yang perlu diberdayakan dalam kegiatan belajar, seperti keterampilan berpikir kritis, pemecahan masalah, metakognisi, keterampilan berkomunikasi, berkolaborasi, inovasi dan kreasi, literasi informasi, dan berbagai keterampilan lainnya. Standar baru diperlukan agar siswa kelak memiliki kompetensi yang diperlukan pada abad-21.
Pembelajaran Abad 21
Pendekatan tradisional yang menekankan hafalan atau penerapan prosedur sederhana tidak akan mengembangkan keterampilan berpikir kritis atau kemandirian siswa. Setiap individu harus terlibat dalam pembelajaran berbasis inkuiri yang bermakna, memiliki nilai kebenaran dan relevansi, untuk mengembangkan keterampilan berpikir tingkat tinggi yang mereka perlukan (Barron and Darling-Hammond, 2008). Model pembelajaran baru abad-21, harus diubah untuk memunculkan bentuk-bentuk pembelajaran baru yang dibutuhkan dalam mengatasi tantangan global yang kompleks. Identifikasi kompetensi siswa yang perlu dikembangkan merupakan hal yang sangat penting untuk menghadapi abad-21. Hasil belajar yang baik adalah ketika individu melebihi harapan untuk menghafal dan mengulang fakta dan pengetahuan yang terputus, dan menangkap peluang untuk memahami konsep-konsep yang sulit dan ide yang kompleks, mengevaluasi ide-ide baru, dan membuat inti sari wawasan mereka sendiri. Sehingga tercapailah tujuan utama pembelajaran abad-21 yaitu membangun kemampuan belajar individu dan mendukung perkembangan mereka menjadi pebelajar sepanjang hayat, aktif, pebelajar yang mandiri; oleh karena itu guru perlu menjadi 'coach pembelajaran' – sebuah peran yang sangat berbeda dari guru kelas tradisional.
Peran guru
Sebagai seorang guru, hendaknya menyiapkan anak didik kita untuk memiliki keterampilan abad-21.  Menguasai berbagai bidang, mahir dalam hal pedagogi termasuk inovasi pengajaran dan pembelajaran, paham psikologi pembelajaran dan memiliki keterampilan konseling, mengikuti perkembangan kebijakan kurikulum dan isu pendidikan, menguasai media dan teknologi baru dalam pembelajaran, serta  menerapkan nilai-nilai untuk pembentukan kepribadian dan akhlak yang baik. Guru yang berkualitas tinggi pasti memiliki pengaruh kuat terhadap prestasi siswa dan berperan sebagai role model untuk kepercayaan, keterbukaan, ketekunan dan komitmen bagi siswanya dalam menghadapi ketidakpastian di abad-21. Sekalipun teknologi di era digital berkembang pesat, namun peran guru dan tenaga kependidikan masih tetap memiliki peran sentral, tidak peduli bagaimana konsep pendidikan.
Teknologi dan informasi selamanya mengubah cara kita berkomunikasi sebagai manusia. Akan tidak adil bagi murid-murid kita jika tidak membantu mereka mempersiapkan diri untuk dunia yang berubah ini. Pembelajaran abad-21 berarti mengajar seperti yang kita lakukan di abad-abad sebelumnya, tetapi dengan cara dan alat yang lebih baik. Sebagai pendidik hari ini kita memiliki keuntungan besar, memiliki alat pembelajaran yang kuat dan belum kita miliki sebelumnya. Abad-21 adalah kesempatan bagi siswa untuk memperoleh lebih banyak pengetahuan. Guru memiliki kemampuan untuk membimbing dan mempersiapkan mereka untuk masa depan mereka. Pada akhirnya, pembelajar abad-21 akan menjadi “pembelajar yang didorong,” di mana mereka memilih bagaimana dan apa yang ingin mereka pelajari. Guru akan berfungsi sebagai fasilitator dan panduan untuk membantu merangkul pembelajaran abad-21. Selamat berkolaborasi dan sukses untuk guru Indonesia.

Pentingnya Media Informasi Karir Online untuk siswa SMA


Perubahan informasi karir berkembang super cepat seiring dengan tuntutan revolusi industri 4.0. Informasi karir merupakan kebutuhan yang sangat penting dan menimbulkan masalah apabila tidak terpenuhi bagi siswa SMA. Diungkapkan oleh Leksana, Wibowo, & Tadjri (2013) bahwa permasalahan karir pada remaja biasanya berkaitan dengan pemilihan jenis pendidikan, yang mengarah pada pemilihan jenis pekerjaan di masa depan, perencanaan karir, dan pengambilan keputusan tentang karir untuk masa depan, serta informasi tentang pekerjaan yang ada dengan persyaratan yang harus dimiliki.
Sumber utama kebutuhan tersebut adalah informasi dibidang karir bagi siswa SMA, melanjutkan kuliah atau langsung kerja merupakan pilihan bagi mereka setelah lulus SMA. Kenyataan saat ini walaupun sudah tersedia sumber informasi karir dari perguruan tinggi, kedinasan maupun lembaga kursus diperpustakaan atau di ruang BK berupa buku panduan,brosur, pamflet atau poster belum dimanfaatkan secara maksimal. Kadang siswa memilih suatu jurusan atau program studi tanpa pertimbangan yang matang atau hanya mengikuti teman, tanpa melihat dan mempertimbangkan karakteristik, bakat serta kemampuan yang dimilikinya. Padahal memilih jurusan atau program studi yang cocok sesuai bakat dan kemampuan serta kepribadiannya adalah hal yang sangat penting dan akan mempengaruhi perkembangan karir seseorang. Apabila salah memilih perguruan tinggi yang tidak sesuai, alhasil pada saat kuliah akan salah jurusan sehingga akan terhambat karirnya kedepan.
Sukardi (2008) layanan informasi adalah layanan bimbingan yang memungkinkan peserta didik dan pihak- pihak lain yang dapat memberikan pengaruh yang besar kepada peserta didik (terutama orang tua) dalam menerima dan memahami informasi (seperti informasi pendidikan dan informasi jabatan) yang dapat dipergunakan sebagai bahan pertimbangan dan pengambilan keputusan sehari-hari sebagai pelajar, anggota keluarga, dan masyarakat.
Model layanan bimbingan konseling yang didengungkan diera revolusi industri 4.0 salah satunya dengan pemanfaatan dan penguasaan teknologi informasi dan komunikasi ICT oleh guru BK dari metode layanan konvensional berubah menjadi layanan kolaborasi digital interaktif. Mengapa dikatakan layanan informasi masih dikatakan konvensional? Karena penyebaran promosi dan informasi perguruan tinggi masih menggunakan media berupa poster, pamflet dan brosur dan secara klasikal dikelas. Disekolah pemanfaatan media menggunakan poster dan pamflet hanya dipajang dipapan informasi, padahal siswa kurang minat membaca. Masalah lain penempelan brosur atau poster yang sembarangan akan menimbulkan masalah, seperti papan informasi jadi kotor karena bekas lem dari poster/pamflet. Brosur yang disebarkan sebagai ajang promosi perguruan tinggi, akademi atau pelatihan kursus keahilan yang tidak dibaca hanya dibuang, bahkan disekolah ditumpuk begitu saja sampai bertahun-tahun. Keengganan siswa membaca poster, pamflet dan brosur disebabkan mereka lebih tertarik melalui media yang berbasis web atau aplikasi yang diintergrasikan melalui internet dengan media android di smartphone. Meskipun dampak teknologi informasi sudah sedemikian besar pengaruhnya pada pendidikan, ternyata fakta lain yang terjadi dilapangan guru BK masih belum optimal dalam penggunaan teknologi infomasi dan komunikasi, padahal penguasaan ICT oleh guru BK akan sangat menunjang keberhasilan dalam pemberian layanan informasi karir.
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi dengan adanya jaringan internet memberikan kemudahan dan keleluasaan dalam menggali ilmu pengetahuan. Dartias (2010) mengungkapkan media elektronik memiliki beberapa karakteristik, yaitu cepat dalam menyampaikan informasi, dapat menjangkau khalayak yang lebih luas, dan lebih menarik karena dikemas dengan memadukan audio dan visual. Melalui media elektronik ini akses akan informasi bisa di dapatkan masyarakat lebih cepat. Lembaga riset pasar e-Marketer, populasi pengguna internet di Indonesia  mencapai 83,7 juta orang pada 2014. Pada tahun 2017, e-Marketer memperkirakan netter Indonesia bakal mencapai 112 juta orang, mengalahkan Jepang di peringkat ke-5 yang pertumbuhan jumlah pengguna internetnya lebih lamban.
Melalui koneksi internet yang diintergrasikan dalam aplikasi browser di komputer dan smartphone, terjadi proses interaksi siswa dan guru BK sehingga dapat mengakses informasi karir, dan referensi pilihan karir secara luas. Media online interaktif menampilkan berbagai informasi lengkap, menarik, kreatif dan inovatif. Berpadunya teknologi digital dengan koneksi internet, maka akan memberikan solusi mudah, cepat dan murah untuk penyebaran informasi tanpa dibatasi ruang dan waktu. Guru BK profesional dituntut menguasai media online digital dalam percepatan revolusi industri 4.0 ini agar tidak ketinggalan. Bentuk layanan informasi karir dapat dilakukan dengan eksplorasi di internet, melalui berbagai situs pendidikan di website perguruan tinggi, sekolah tinggi kedinasan, atau lembaga kursus baik dalam negeri maupun luar negeri, pertama guru BK dapat mengenalkan beberapa universitas negeri atau swasta. Informasi tentang fakultas, program studi dan biaya diinformasikan dengan lengkap tanpa kita harus datang langsung ke lokasi yang mungkin jauh dan memakan biaya yang banyak.
Kedua, setelah mengenalkan perguruan tinggi yang diminati kemudian guru BK membimbing persiapan untuk proses seleksi masuk perguruan tinggi, dalam hal ini khususnya perguruan tinggi negeri melalui jalur SNMPTN/SBMPTN/ujian mandiri yang semuanya dilakukan secara online melalui portal website yang telah disediakan. Demikian juga perguruan tinggi swasta melakukan pendaftaran dan validasi dengan melengkapi persyaratan berkas-berkas yang dikirim berupa softfile yang di unggah secara online.
Ketiga, pengenalan berbagai macam karir profesional melalui informasi karir melalui web diinternet. Guru BK memandu siswa mencari informasi pekerjaan, tips wawancara, membuat CV melalui mesin pencari google, yahoo, dan youtube. Bimbingan secara secara interaktif perlu dilakukan oleh guru BK dalam pemanfaatan media online, apabila siswa membutuhkan konsultasi dalam informasi karir guru BK harus sigap memberikan layanan konsultasi baik secara face to face ataupun melalui email,whatsapp,line, atau media komunikasi digital lainnya.
Diharapkan melalui pemanfaatan ICT kemampuan siswa dalam memperkaya sumber-sumber informasi karir dari berbagai media digital melalui jaringan online meningkat sehingga keputusan karir dapat dipilih secara tepat sesuai dengan bakat,minat dan kemampuannya. Oleh karena itu, marilah kita sebagai guru BK pembelajar dan profesional di era revolusi industri 4.0 dituntut berkolaborasi menggunakan ICT, selalu up to date, smart, kreatif dan inovatif menciptakan model layanan informasi karir baru yang lebih baik untuk kemajuan pendidikan di Indonesia.  

Empati Dalam Pendidikan


Saat ini kita sedang dihadapkan masalah dan tantangan serius, mulai dari ranah politik,hukum dan pemerintahan. Ranah pendidikan disorot sebagai muara baik buruknya kualitas manusia khususnya kehidupan berbangsa dan bernegara. Banyak kejadian terkait dengan semakin menurunnya moral,etika dan norma sosial mulai dari usia anak-anak, remaja dan dewasa. Kemajuan jaman tidak diikuti oleh kemajuan dalam bersikap, bertuturkata apalagi bertingkah laku akan berdampak tingginya degradasi moral. Pendidikan karakter dicetuskan sebagai jawaban atas menurunnya moral,etika dan nilai-nilai kehidupan dalam masyarakat.
Upaya sekolah dalam rangka meningkatkan kesadaran pentingnya bersikap yang sesuai dengan nilai-nilai akhlak mulia salah satunya adalah dengan penanaman sikap empati sejak dini. Empati berasal dari bahasa Yunani yaitu phatos yang artinya perasaan mendalam atau kuat. Hurlock (1999) empati adalah kemampuan seseorang untuk mengerti tentang perasaan dan emosi orang lain serta kemampuan untuk membayangkan diri sendiri di tempat orang lain. Apa yang dirasakan orang lain yang sedang mengalami masalah, kita mampu mampu membayangkan dan merasakan serta mau menerima keadaaan yang dialaminya. Ketika peristiwa bencana alam gempa bumi yang baru saja menimpa saudara kita di Palu Sulawesi Tengah, sontak empati kita tergugah membayangkan apabila bencana alam itu menimpa diri kita betapa sedih,takut dan cemas menghadapi peristiwa tersebut. Kesadaran hati dan perasaan kita tergugah untuk segera membantu memberi pertolongan yang dibutuhkan, sebagai wujud empati serta kepedulian terhadap sesama.

Empati dalam Pembelajaran
Dalam pendidikan, guru seharusnya mampu memberikan empati kepada siswanya dan mengajarkan bagaimana bersikap empati. Tiga karaktristik empati yaitu mampu menerima sudut pandang orang lain, memiliki kepekaan terhadap perasaan orang lain, mampu mendengarkan orang lain. Mengajarkan empati kepada siswa adalah sebagai upaya kita menolong untuk memahami sudut pandang orang lain. Pada saat guru bertanya dalam sebuah diskusi kelompok beberapa murid pasti mempunyai sudut pandang yang berbeda dalam menjawab suatu permasalahan, saat itu kita hadapkan untuk memunculkan empati saling menghargai dan menghormati pandangan dari siswa-siswa kita, kemampuan untuk menerima jawaban yang mungkin dianggap nyeleh,ngawur dan kurang sependapat itulah sebenarnya kita sudah melakukan sikap empati. Apapun jawaban siswa atas pertanyaan yang diajukan oleh guru, mereka pantas untuk mendapatkan apresiasi yang baik.
Terkait dengan kepekaan perasaan, guru mampu mengidentifikasi perasaan-perasaan siswa dan peka terhadap hadirnya emosi dalam dirinya. Pada saat di kelas siswa terlihat malas mengikuti pelajaran ditunjukan asyik ngobrol dengan temannya, menjahili teman atau bahkan tertidur dikelas. Hal itu akan tampak melalui pesan non-verbal, misalnya nada bicara, gerak-gerik dan ekspresi wajah. Kepekaan guru yang sering diasah akan dapat membangkitkan reaksi spontan pasti akan segera mengambil tindakan sebagai reaksi terhadap kondisi siswa tersebut. Proses tindakan yang baik seharusnya dilakukan dengan cara yang baik pula, karena apabila guru tidak memiliki rasa empati serta peka terhadap perasaan yang dialami siswanya, maka serta merta guru tersebut akan melakukan tindakan yang hanya meluapkan emosi sesat seperti menegur dengan kasar, menampar dan menghukum tanpa alasan yang jelas. Akibatnya akan memunculkan permasalahan baru bagi guru dan siswa tersebut.
Kemampuan berikutnya adalah sebagai guru kita harus mampu mendengarkan. Sikap mau mendengar akan memberikan pemahaman yang lebih baik terhadap perasaan orang lain dan mampu membangkitkan penerimaan terhadap perbedaan yang terjadi. Permasalahan yang dialami siswa tidak akan pernah dapat diketahui apabila kita tidak mau mendengarkan cerita mereka dan segala pernik-pernik kehidupannya. Motivasi, semangat dan nasehat yang kita berikan ke siswa tidak akan pernah bermanfaat apabila kita tidak mendengarkan apa yang mereka rasakan dan pikirkan.
Empati terbukti baik bagi guru dan siswa serta menjadi bagian penting dalam proses belajar mengajar. Untuk menjadi guru yang efektif, perlu memiliki kemampuan ini untuk memahami kondisi siswanya sebagai upaya membantunya belajar dan memperoleh pengetahuan. Guru yang tidak memahami perasaan-perasaan, pikiran-pikiran, motif-motif dan orientasi tindakan siswanya akan sulit untuk membantu dan memfasilitasi kegiatan belajar siswanya. Indikator atau karakteristik dari siswa yang sukses adalah berpengetahuan, mampu menentukan diri sendiri, strategis dan empatik.
Di era zaman now ini masih banyak anak didik kita yang membutuhkan mata, telinga dan perasaan kita sebagai pendidik untuk membantu mereka bertumbuh dengan matang dengan segala problematikanya. Mari sebagai pendidik kita bersama-sama tanamkan sikap empati sebagai dasar untuk memulai mendidik dan mengajar, bertumbuh bersama demi kemajuan bangsa dan negara kita.