Pengembangan
profesionalitas guru selalu digiatkan dengan kegiatan seperti
seminar,workshop,IHT dan pelatihan lain yang sejenis. Literasi, ketrampilan
abad-21, dan ICT adalah perpaduan kolaborasi strategi setiap sekolah dalam
meningkatkan mutu pendidikan di era zaman now.
Guru abad-21 dipersiapkan untuk membawa siswa mempelajari keterampilan dasar langsung dari
pemodelan guru, sampai ke aplikasi kolaboratif di dunia nyata. Hal ini
diasumsikan bahwa guru dituntut untuk mengajar menggunakan literasi termasuk di
dalamnya penggunaan ICT. Menurut
Wagner (2010) dan Change
Leadership Group dari
Universitas Harvard
mengidentifikasi kompetensi
dan keterampilan bertahan
hidup yang diperlukan
oleh siswa dalam
menghadapi kehidupan, dunia kerja,
dan kewarganegaraan di
abad-21 ditekankan pada
tujuh (7) keterampilan berikut:
(1) kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah, (2) kolaborasi dan
kepemimpinan, (3) ketangkasan dan kemampuan beradaptasi, (4) inisiatif dan
berjiwa entrepeneur, (5) mampu berkomunikasi
efektif baik secara
oral maupun tertulis,
(6) mampu mengakses
dan menganalisis informasi, dan (7) memiliki rasa ingin tahu dan
imajinasi.
Literasi
informasi yang mencakup kemampuan mengakses, mengevaluasi dan menggunakan
informasi. Seseorang yang berkemampuan literasi media adalah seseorang yang
mampu menggunakan keterampilan proses seperti kesadaran, analisis, refleksi dan
aksi untuk memahami pesan alami yang terdapat pada media. Literasi media juga
mencakup kemampuan untuk menyampaikan pesan dari diri dan untuk memberikan
pengaruh dan informasi kepada orang lain. Kemampuan literasi ICT mencakup
kemampuan mengakses, mengatur, mengintegrasi, mengevaluasi, dan menciptakan
informasi melalui penggunaan teknologi komunikasi digital. Literasi ICT
berpusat pada keterampilan berpikir tingkat tinggi dalam mempertimbangkan
informasi, media, dan teknologi di lingkungan sekitar. Tiga bentuk literasi
yang meliputi literasi komunikasi informasi, media dan teknologi, merupakan
keterampilan pokok yang diperlukan untuk keberhasilan kehidupan di abad-21
(Trilling & Fadel, 2009).
Munculnya
teknologi informasi dan komunikasi yang berkembang cepat telah mengubah cara
kita belajar, sifat pekerjaan yang dapat dilakukan, dan makna hubungan sosial.
Pengambilan keputusan bersama, berbagi informasi, berkolaborasi, berinovasi,
dan kecepatan bekerja menjadi aspek yang sangat penting pada diera modern ini.
Siswa diharapkan tidak lagi berfokus untuk berhasil dalam melakukan
pekerjaan-pekerjaan manual atau pekerjaan rutin berbantuan mesin ataupun juga
pekerjaan yang mengandalkan pasar tenaga kerja murah. Saat ini, indikator
keberhasilan lebih didasarkan pada kemampuan untuk berkomunikasi, berbagi, dan menggunakan
informasi untuk memecahkan masalah yang kompleks, dapat beradaptasi dan
berinovasi dalam menanggapi tuntutan baru dan mengubah keadaan, dan memperluas
kekuatan teknologi untuk menciptakan pengetahuan baru.
Saat
ini sekolah ditantang menemukan cara dalam rangka mengupayakan siswa sukses
dalam pekerjaan dan kehidupan melalui penguasaan keterampilan berpikir kreatif,
pemecahan masalah yang fleksibel, berkolaborasi dan berinovasi. Keterampilan-keterampilan
penting di abad-21 masih relevan dengan empat pilar kehidupan yang mencakup learning to know, learning to do, learning
to be dan learning to live together. Empat prinsip tersebut masing-masing
mengandung keterampilan khusus yang perlu diberdayakan dalam kegiatan belajar,
seperti keterampilan berpikir kritis, pemecahan masalah, metakognisi,
keterampilan berkomunikasi, berkolaborasi, inovasi dan kreasi, literasi
informasi, dan berbagai keterampilan lainnya. Standar baru diperlukan agar
siswa kelak memiliki kompetensi yang diperlukan pada abad-21.
Pembelajaran
Abad 21
Pendekatan
tradisional yang menekankan hafalan atau penerapan prosedur sederhana tidak
akan mengembangkan keterampilan berpikir kritis atau kemandirian siswa. Setiap
individu harus terlibat dalam pembelajaran berbasis inkuiri yang bermakna,
memiliki nilai kebenaran dan relevansi, untuk mengembangkan keterampilan
berpikir tingkat tinggi yang mereka perlukan (Barron and Darling-Hammond,
2008). Model pembelajaran baru abad-21, harus diubah untuk memunculkan
bentuk-bentuk pembelajaran baru yang dibutuhkan dalam mengatasi tantangan
global yang kompleks. Identifikasi kompetensi siswa yang perlu dikembangkan
merupakan hal yang sangat penting untuk menghadapi abad-21. Hasil belajar yang
baik adalah ketika individu melebihi harapan untuk menghafal dan mengulang
fakta dan pengetahuan yang terputus, dan menangkap peluang untuk memahami
konsep-konsep yang sulit dan ide yang kompleks, mengevaluasi ide-ide baru, dan
membuat inti sari wawasan mereka sendiri. Sehingga tercapailah tujuan utama pembelajaran
abad-21 yaitu membangun kemampuan belajar individu dan mendukung perkembangan
mereka menjadi pebelajar sepanjang hayat, aktif, pebelajar yang mandiri; oleh
karena itu guru perlu menjadi 'coach
pembelajaran' – sebuah peran yang sangat berbeda dari guru kelas tradisional.
Peran guru
Sebagai
seorang guru, hendaknya menyiapkan anak didik kita untuk memiliki keterampilan
abad-21. Menguasai berbagai bidang,
mahir dalam hal pedagogi termasuk inovasi pengajaran dan pembelajaran, paham
psikologi pembelajaran dan memiliki keterampilan konseling, mengikuti
perkembangan kebijakan kurikulum dan isu pendidikan, menguasai media dan
teknologi baru dalam pembelajaran, serta menerapkan nilai-nilai untuk pembentukan
kepribadian dan akhlak yang baik. Guru yang berkualitas tinggi pasti memiliki
pengaruh kuat terhadap prestasi siswa dan berperan sebagai role model untuk
kepercayaan, keterbukaan, ketekunan dan komitmen bagi siswanya dalam menghadapi
ketidakpastian di abad-21. Sekalipun teknologi di era digital berkembang pesat,
namun peran guru dan tenaga kependidikan masih tetap memiliki peran sentral,
tidak peduli bagaimana konsep pendidikan.
Teknologi
dan informasi selamanya mengubah cara kita berkomunikasi sebagai manusia. Akan
tidak adil bagi murid-murid kita jika tidak membantu mereka mempersiapkan diri
untuk dunia yang berubah ini. Pembelajaran abad-21 berarti mengajar seperti
yang kita lakukan di abad-abad sebelumnya, tetapi dengan cara dan alat yang
lebih baik. Sebagai pendidik hari ini kita memiliki keuntungan besar, memiliki
alat pembelajaran yang kuat dan belum kita miliki sebelumnya. Abad-21 adalah
kesempatan bagi siswa untuk memperoleh lebih banyak pengetahuan. Guru memiliki
kemampuan untuk membimbing dan mempersiapkan mereka untuk masa depan mereka.
Pada akhirnya, pembelajar abad-21 akan menjadi “pembelajar yang didorong,” di mana mereka memilih bagaimana dan apa
yang ingin mereka pelajari. Guru akan berfungsi sebagai fasilitator dan panduan
untuk membantu merangkul pembelajaran abad-21. Selamat
berkolaborasi dan sukses untuk guru Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar